Rabu, 20 Juli 2011

Untukmu yang Merindukan Keluarga Sakinah

Ditulis Oleh: Abu Zahroh Al Anwar    


Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Kehidupan berumah tangga yang terdiri dari suami istri merupakan tataran dan wahana kehidupan terpenting yang dilalui oleh umat manusia. Bilamana kehidupan suami istri berdiri di atas kecintaan sejati, keserasian sempurna, saling pengertian, maka kehidupan keduanya akan ternaungi ke-bahagiaan, keamanan dan ketentraman, kestabilan, dan dipenuhi dengan kecintaan. Nuansa kehidupan berumah tangga yang demikian inilah yang diinformasikan oleh Alloh dalam firman-Nya:

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu  istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepada-nya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian ilu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. ar-Ruum:21)


bahagiaan yang terakumulasi di dalamnya sakinah (ketentraman), ma-waddah (kecintaan), rohmah (kasing sayang) merupakan idaman setiap insan, terutama para pasutri. Dengan mengerahkan segala daya dan upaya, mereka berusaha meraihnya. Namun dengan segala kelemahan yang ada pada diri setiap insan hendaknya setiap pasutri memahami bahwa yang mengetahui hakikat semua itu adalah Alloh Azza wa Jalla , pencipta seluruh alam semesta. Alloh dengan syariat Islam-Nya menjanjikan kebahagiaan, sehingga tak ada sarana hakiki untuk menggapainya selain apa yang telah digariskan oleh Alloh Ta'ala dalam syariat Islam.

Islam sangat memperhatikan kehidupan pasutri. Islam banyak memberikan perhatian dan petunjuk kepada pasutri dalam menyelesaikan problematika rumah tangga. Menjelaskan segala sarana menggapai kebahagiaan, ketentraman, dan keamanan rumah tangga pasutri. Mengatur dengan apik hubungan khusus dan umum antara sesama umat manusia, terutama pasutri. Islam telah meletakkan undang-undang keluarga yang berdiri di atas hubungan yang erat lagi kuat antara pasutri.

Islam agama yang lurus, manhaj kehidupan yang mustaqim. Diturunkan Alloh Ta'atu untuk memperbaiki kehidupan manusia di dunia dan akhirat, memberikan wejangan yang tinggi lagi mulia dengan memberikan hak yang sesuai porsinya kepada masing-masing pasutri. Undang-undang keluarga dalam Islam merupakan undang-undang Robbani yang akan terjaga semua hajat dan penopang-penopangnya serta fitroh manusia.
Hukum-hukum pernikahan dalam Islam merupakan manhaj kamil mutakamil (sempurna).
Terkumpul di dalamnya ibadah dan pemenuhan tuntutan fitroh. Hukum-hukum pernikahan dalam Islam-lah yang memberikan batasan tatanan dan jalan yang Alloh Ta 'ala akan mencintai pasutri yang berkumpul di dalam ikatan suci tersebut, guna membangun keluarga yang penuh berkah lagi mulia.
Maka benarlah Alloh Ta 'ala yang telah berfirman:

"Telah sempurnalah kalimat Robbmu (Al Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An'am: 115)

Jikalau demikian, dengan penuh kepastian kita bidik dan menggapai kebahagiaan dengan Islam. Ya, Islarnlah yang menjanjikan hakikat kehidupan dan kebahagiaan bagi pasutri dalam bingkai rumah tangga yang islami. Keindahan dan kebahagiaan suatu rumah tangga terdapat dalam nilai-nilai Islam yang diaplikasikan di dalamnya.

Alloh Ta'ala berfirman;
Barang siapa yang mengerjakan amal sho!ih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. maka sesungguhnya akan Kami berikan hepadanya kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an-Nahl: 97)

Jikalau sekiranya penduduk  negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahhan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayal Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A'rof: 96)

Usaha apapun guna meraih kebahagiaan dengan selain menapaki dienul Islam, maka akan membuahkan kegagalan dan kesia-siaan. Renungkanlah keadaan penduduk Saba' yang digambarkan oleh Alloh Ta'ala berikut ini:

Sesungguhnya  bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Robb) di tem pat kediaman meraka. yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianngerahkan) Robbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Robbmu) adalah Robb yang Maha Pengampun. "(QS. as-Saba': 15)

Namun, tatkala mereka berpaling dari aturan Alloh Azza wa Jalla
" Tetapi mereka berpaling. Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti hedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah  pahit, pohon  Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainhan hanya kepada orang-orang yang sangat ka fir. (QS. as-Saba': 16-17)

Prahara rumah langga pasutri, tonggak awalnya adalah ketidakpatuhan kepada Robbul 'alamin, Ketaatan dan kepatuhan lerhadap aturan Alloh Azza wa Jalla  dalam dienul Islam, ibarat perahu yang siap sedia mengajak insan untuk berlayar menuju kebahagian.

Tidak ada insan yang mampu berlayar kecuali dengan ilmu. Karena itu ilmu tentang aturan dan undang-undang Alloh dalam rumah tangga dan pernikahan amat fundamental guna menggapai kebahagiaan.
marilah kita berpetualang, mendayung sampan mengarungi samudra ilmu dienul Islam dalam pembentukan rumali tangga sakinah, mawaddah, wa rolunah. 

Bagaimana Mendapatkan Pasangan Idaman

Ringkasan :
Mencari jodoh yang ideal memang gampang-gampang susah namun seseorang
harus tetap berusaha untuk mendapatkannya, dengan syarat tidak melanggar syariat, semisal berpacaran. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkannya, antara lain:


1. Berdoa’a kepada Allah Ta’ala
Berdo’a adalah senjata kaum muslimin, karena Allah akan mengabulkan permohonan hamba-Nya sebagaimna firman-Nya: Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. (QS. Ghofir: 60).
Maka bagi yang mendambakan suami istri idaman hendaklah dia memperbanyak berdo’a kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana do’a yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istriistri
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami iman bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)

2. Mencari informasi dari orang yang terpercaya
Termasuk hal tolong menolong dalam kebaikan, bagi orang yang mengetahui adanya laki-laki shalih atau wanita shalihah untuk mengabarkan kepada orang yang mau menikah. Begitu pula bagi yang ingin menikah untuk mencari informasi tentang orang yang akan dilamar agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Ada satu hadits yang berhubungan dengan hal ini; Dari Anas bin Malik berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam mengutus Ummu Sulaim untuk melihat seorang gadis, dan beliau berkata: Ciumlah
bau mulutnya dan lihatlah yang diatas tumitnya. (HR. Ahmad, Baihaqi, Hakim beliau berkata Shahih dan disepakati oleh Imam Dzahabi, namun Syaikh Al-Albani melemahkannya).

3. Melihat Calon istri
Untuk bisa mengetahui kriteria fisik calon istri, seseorang dierbolehkan bahkan dianjurkan untuk melihatnya sebelum melamarnya. Dari Mughirah bin Syu’bah berkata: Aku berniat melamar seorang wanita. Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam bertanya kepadaku: apakah engkau sudah melihatnya? Belum jawabku, maka beliau bersabda: Lihatlah dia, karena hal itu dapat melanggengkan rumah tangga kalian berdua.(HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
Bahkan boleh baginya mencuri pandang serta melihatnya dari arah yang tidak diketahui oleh si wanita. Dari Sulaiman bin Abi Hatsmah berkata: Saya pernah melihat Muhammad bin Maslamah mengintai seorang wanita dari atas tembok, kukatakan kepadanya: Apakah engkau masih berbuat begitu padahal engkau seorang sahabat nabi? Ia
menjawab: Tentu saja, karena Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam pernah bersabda: Jika terbetik pada seseorang keinginan meminang seorang wanita, maka ia boleh melihatnya. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

4. Menawarkan putrinya atau saudarinya kepada orang shalih yang baik
agamanya Dari Umar bin Khattab berkata: Ketika Hafshah binti Umar menjadi janda karena kematian suaminya, saya pergi menemui Utsman bin Affan untuk menawarkan Hafshah kepadanya, Utsman menjawab: Saya pertimbangkan terlebih dahulu. beberapa hari kemudian Utsman menemuiku, ia berkata: Kelihatannya saya belum punya keinginan menikah sekarang ini, Umar berkata: Kemudian aku pergi menemui
Abu Bakar, kukatakan kepadanya jika engkau setuju, aku nikahkan engkau dengan Hafshah, Abu Bakar diam saja dan tidak memberikan jawaban apapun. Beberapa hari kemudian Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam datang melamar Hafshah. Akupun menikahi beliau dengannya. (HR. Bukhari).

5. Menawarkan dirinya pada orang shalih untuk dinikahi
Seorang wanita boleh menawarkan dirinya pada orang shalih untk dinikahi dengan syarat aman dari fitnah. Dari Anas bin Malik berkata: Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam untuk menawarkan dirinya kepada beliau, dia berkata: Wahai Rasulullah, apakah anda mau menikah denganku? Maka berkata
putri Juas: Alangkah tidak punya malunya wanita itu, lantas Juas menjawab: Wanita itu lebih baik darimu, dia ingin dinikahi oleh Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam, maka dia menawarkan dirinya. (HR. Bukhari, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

6. Shalat istikharah
Pilihan Allah Ta’ala adalah sebaik-baik pilihan, maka shalat istikharah adalah jalan terbaik untuk mendapatkan pilihan yang tepat. Sebagaimana hadits Jabir bahwasanya rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang dianatara kamu berhasrat melakukan satu perkara, hendaknya ia mengerjakan shalat dua rakaat diluar shalat fardhu, kemudian bacalah doa ini:  
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, aku memohon
karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sementara aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang maha Mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, Apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, agamaku, hidupku dan baik akibatnya terhadap diriku maka tetapkanlah dan mudahkanlah bagiku. Dan jika Engkau tahu bahwa prkara ini buruk
bagiku, agamaku, hdupku serta buruk akibatnya terhadap diriku, maka jauhilah perkara ini dariku dan jauhilah diriku darinya, tetapkanlah kebaikan untukku dimana saja aku berada, kemudian jadikanlah diriku ridha menerimanya. Lalu Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam bersabda: Lalu silahkan ia menyebut kepentingannya. (HR. Bukhari dan Abu Dawud).

Sumber : http://www.facebook.com/groups/keluarga.islami?view=doc&id=119703398124436